HAKIKAT SYAHADAT DAN SHALAT

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Bismillahirrahmanirrahim


HAKIKAT SHALAT DAN SYAHADAT
Dengan senantiasa bermohon Ridha dan Tolong dari Allah SWT, penulis menyampaikan pemahaman tentang hakikat Syahadat dan Shalat sesuai yang penulis fahami. Hal ini penulis sampaikan semata-mata untuk sarana ibadah kepada Allah, jadi tidak ada maksud yang selain-nya. Tulisan ini juga tidak untuk mencari pembenaran tetapi berharap untuk mendapatkan kebenaran agar sampai kepada tujuan kebenaran dengan kebenaran yang dijalankan,

Syahadat merupakan alas (dasar) dan pondasi daripada bangunan Agung bernama Islam. Di mana bangunan itu ditegakkan oleh tiang-tiang yang bernama Shalat. Jadi antara Syahadat dan Shalat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tegaknya Shalat karena Syahadat, Shalat diperintahkan, wajib untuk dilaksanakan bagi manusia yang telah berSyahadat. Tidak ada Shalat bagi yang belum Bersyahadat, dan tidak boleh Shalat mendahului daripada Syahadat.

A.      SYAHADAT

Syahadat merupakan bukti/ tanda manusia yang telah menjatuhkan pilihannya bahwasannya hanya Allah sebagai Sesembahan yang TAUHID. Tidak ada yang pantas ditunduktaati kecuali Allah SWT. (Ashadu ala ilaha ilallah) dan menjadikan Nabi Muhammad Rosulullah sebagai panutan atau suri tauladan yang benar dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT. ( Wa ashadu ana muhammadarrosulullah).
Jika manusia telah menyatakan, berikrar, berjanji setia dan bersaksi hanya Allah sebagai Tuhan yang wajib ditunduktaati. Manusia itu harus mencontoh Nabi Muhammad Rosulullah dalam mengabdikan dirinya kepada Allah SWT.
Bila kita mencermati kalimat Syahadat dari sisi bahasa dengan seksama, sesungguhnya hakikat Syahadat adalah merupakan janji setia manusia kepada Allah untuk menjadi Muhammad umat. Muhammad dalam hal ini diartikan sebagai Manusia yang terpuji karena perilaku dan budi pekertinya yang luhur dengan menjalankan Al-Qur’an. Dengan berpegang teguh kepada 4 pilar keutamaan yaitu Sidiq, amanah, tablig dan fathonah.
Jadi sesungguhnya bila manusia telah berSyadahat, dia telah berjanji kepada Allah untuk menjadi Muhammad (Manusia yang Terpuji), Muhammad disini bukan berarti sebagai Nabi tetapi sebagai Muhammad umat yang melakukan perbuatan terpuji sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

Kesimpulan daripada hakikat/ makna Syahadat adalah :

Ashadu ala ilahailallah wa ashadu ana muhadarrosulullah :
Adalah ikrar/ janji manusia kepada Allah SWT yang Tauhid untuk menjadi Muhammad (Manusia yang terpuji) dengan menjalankan RisalahNya yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Jadi bilamana manusia yang telah berSyahadat tetapi masih melakukan perbuatan yang tidak terpuji, dalam arti tidak mencerminkan apa yang telah Allah tuliskan dalam KalamNya yaitu Al-Qur’an, sesungguhnya manusia itu telah lalai dan telah ingkar terhadap janjinya kepada Allah. Sehingga dia tidak lagi menjadi Muhammad umat (Manusia yang terpuji) dan dia termasuk orang yang rugi di dunia dan di akhirat. Inilah yang perlu untuk direnungkan dan difahami agar bisa dimengerti, karena mungkin masih banyak diantara manusia yang sudah beragama Islam tetapi masih banyak melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Padahal bila manusia selalu ingat Syahadatnya dia akan takut melakukan perbuatan yang dimurkai Allah SWT.

“Maka jadikanlah Syahadat sebagai aqidah yang harus dipegang teguh dalam berbuat dan bertingkah laku di dalam kehidupan ini, agar kita tetap menjadi Muhammad (Manusia yang Terpuji) yang benar dan baik dalam pengabdiannya kepada Allah SWT”.

Mencuri, memfitnah, memakan harta anak yatim (rakyat), korupsi, berzina, mabuk-mabukan, menyembah berhala (harta benda, kekuasaan, uang, dll) adalah contoh perbuatan yang  tidak terpuji yang telah menghinakan manusia itu sendiri karena mengikuti jalannya Syetan. Untuk itu bagi manusia yang masih gemar melakukan perbuatan maksiat (perbuatan yang tidak terpuji), segeralah untuk bertaubat dan ingatlah perjanjianmu dengan Allah SWT. Karena hanya Muhammad umat (manusia-manusia yang terpuji-lah yang akan sampai dengan selamat (Islam) kepada Allah, dan akan mendapatkan balasan kemuliaan di dunia dan di akhirat).

B.      SHALAT
            Shalat merupakan tiang agama dan dengan Shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar. Untuk membuktikan kebenaran kalimat tersebut, kita harus mengetahui hakikat Shalat yang sebenarnya.

Sesungguhnya Shalat terdiri dari tiga substansi penting yaitu :
1.         Di dalam Shalat ada niat (hati) = niat dalam Shalat.
2.         Di dalam Shalat ada bacaan (lisan) = bacaan dalam Shalat.
3.         Di dalam Shalat ada gerakan (perbuatan) = gerakan dalam Shalat.

Sebagai contoh bila kita mengerjakan Sholat Isya tentunya niat Shalat kita saat itu adalah niat Shalat Isya, dan bacaannya adalah bacaan Shalat Isya serta gerakannya juga gerakan Shalat Isya.

Di sini penulis akan membagi Shalat dalam dua kategori :

1.       Shalat Ritual
                        Shalat Ritual sebagai doa/ Ritual (ini wajib dijalankan sehari semalam dalam 5 waktu yang telah ditentukan saatnya, yaitu Shalat ‘Isya, Subuh, Dhuhur, Ashar dan Maghrib).
                        Dalam Shalat Ritual terjadi hubungan langsung antara seorang hamba dan kholiqnya yaitu antara manusia dan Allah SWT. Hubungan ini disebut Hablum MinAllah. Orang lain tidak dapat menilai kekhusukan hamba lain yang sedang mengerjakan Shalat Ritual tetapi hanya hamba yang mengerjakan shalat itu sendiri dan Allah yang mengetahuinya.
                        Di dalam Shalat Ritual manusia senantiasa memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang diridhoi Allah bukan jalan yang dimurkai Allah. Jadi pada dasarnya Shalat Ritual masih sebatas doa permohonan kepada Allah, yang masih harus diaktualkan/ dinyatakan kebenarannya dalam perbuatan sehari-hari di kehidupan ini. Shalat Ritual yang sudah dijalankan/ dikerjakan dalam bentuk perbuatan inilah yang dinamakan Shalat Aktual.

2.       Shalat Aktual
                        Seperti halnya dengan Shalat Ritual, Shalat Aktual juga dilakukan/ dikerjakan pada waktu yang telah ditentukan yaitu:
1.         Gunakan waktu/ saat hidup-mu sebelum datang mati-mu.
2.         Gunakan waktu/ saat sehat-mu sebelum datang sakit-mu
3.         Gunakan waktu/ saat lapang-mu sebelum datang sempit-mu
4.         Gunakan waktu/ saat muda-mu sebelum datang tua-mu
5.         Gunakan waktu/ saat kaya-mu sebelum datang miskin-mu.
Bermakna Shalat Aktual ini wajib dilakukan/ dikerjakan di setiap waktu/ saat dalam kehidupan ini .

Shalat Aktual merupakan praktek daripada Shalat Ritual, dimana dalam Shalat Aktual ini telah terjadi hubungan antara manusia dan manusia atau manusia dengan ciptaan Allah yang lain seperti binatang dan tumbuhan. Interaksi hubungan antara manusia dan manusia inilah yang dinamakan dengan hubungan (Hablum minAnnas). Hablum minAnnas ini akan berjalan harmonis dan selaras manakala setiap diri manusia memahami hakikat Shalat.
                        Di atas sudah kami terangkan bahwa di dalam Shalat ada tiga substansi yang sangat penting yang harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
                        1.         Di dalam Shalat ada niat (di dalam hati)
Dalam kehidupan sehari-hari harus dipraktekkan oleh hamba Allah, dengan cara setiap melakukan pekerjaan apapun, niatkan dalam hati dengan baik dan benar karena Allah SWT.
2.         Di dalam Shalat ada bacaan (lisan)
Bila membicarakan tentang bacaan tentu tidak lepas daripada lisan. Jadi praktek bacaan dalam Shalat adalah menggunakan lisan kita dengan sebaik-baiknya dengan cara berbicara hal-hal yang baik dan benar di dalam kehidupan sehari-hari. Dimanapun kita berada hendaknya hamba Allah selalu berbicara atau menggunakan lisannya untuk membicarakan kebenaran dan kebaikan dengan halus, santun, baik dan benar.
3.         Di dalam Shalat ada gerakan (Perbuatan)
            Bila hamba Allah sudah selalu berniat yang baik dan benar dalam hatinya, dan juga sudah menggunakan lisannya dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari, hendaknya langsung diikuti dengan gerakan (harakat) atau perbuatan yang baik dan benar pula. Yaitu perbuatan yang bermanfaat untuk dirinya dan juga lingkungannya. Berbuat baik dan benar semata-mata mengikuti kehendak Allah SWT selaku Rabb yang ditunduktaati.

            Ketiga Subtansi Shalat di atas haruslah dijalankan oleh setiap hamba Allah agar selamat (Islam) kehidupannya di dunia dan juga selamat (Islam) kehidupannya di Akhirat.

Dan Shalat Aktual inilah yang lebih dominan dapat mencegah perbuatan keji dan munkar”. Bukan berarti mengesampingkan Shalat Ritual, Shalat Ritual tetap wajib untuk dikerjakan. Karena di dalam Shalat ritual ada permohonan (ada doa) disitulah kebenaran bahwa manusia itu adalah makhluk yang butuh Allah.

Bila setiap hamba dalam kehidupannya selalu berniat baik dan benar, berlisan (bertutur kata) yang baik dan benar serta berbuat (bertingkah laku) yang baik dan benar semata-mata karena Allah SWT, maka baik dan benarlah hamba itu di hadapan Allah (baik dan benar dalam hubungannya kepada Allah = Hablum minAllah) dan juga di hadapan manusia (baik dan benar dalam hubungannya kepada sesama manusia = Hablum minAnnas). Sehingga tidak ada tempat lagi bagi kejahilan dan kejahatan (syetan) dalam diri hamba Allah.
Selanjutnya marilah kita senantiasa menjalankan Shalat Ritual dengan tertib diikuti dengan Shalat Aktual yang benar, sehingga kita insya Allah benar benar benar menjadi hamba Allah yaitu Muhammad umat (manusia yang terpuji).

Catatan :
Tulisan saya ini juga sebagai jawaban dari pernyataan dan pertanyaan beberapa sahabat yang bertanya kepada saya tentang Shalat yang bisa mencegah perbuatan keji dan munkar.

Inilah pertanyaan mereka (para sahabatku) yang ditanyakan kepadaku :

Sahabatku, kenapa masih ada sebagian orang yang rajin mengerjakan shalat lima waktu tetapi perbuatannya masih mengikuti Syetan, ada diantara mereka yang memakan harta anak yatim (rakyat), korupsi, berzina, mabuk-mabukan, mengundi nasib, menyembah berhala (harta benda, kekuasaan, emas, uang, dll) dan mereka lebih mencintai yang selain Allah SWT? Padahal kalam Allah telah menyatakan bahwa Sesungguhnya Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.

Mudah-mudahan Tulisanku ini bisa menjadi jawaban dari pertanyaan para sababat.. Jadi pada dasarnya, orang yang masih suka mengerjakan perbuatan maksiat, sesungguhnya mereka belum mempraktikan/ menjalankan Shalat Aktual tetapi baru sekedar menjalankan Shalat Ritual atau bahkan tidak menjalankan keduanya tetapi hanya KTP nya saja yang berlebel Islam.
Sebagai orang Islam harus menjalankan keduanya (Shalat Ritual dan Shalat Aktual) dengan selaras dan harmonis.

Sesungguhnya bila dalam kehidupan sehari-hari niat kita selalu baik dan benar, ucapan yang keluar dari lisan kita ucapan yang baik dan benar serta perbuatan kita adalah perbuatan yang baik dan benar yang hanya semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT, insya Allah Shalat kita sudah benar sehingga terbuktilah bahwasannya Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.
(Sesungguhnya Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar)

Sesungguhnya niat kita, ucapan yang keluar dari lisan kita dan perbuatan kita sehari-hari dalam kehidupan inilah nanti yang pertama-tama dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
(Sesungguhnya amal yang paling pertama dihisab adalah Shalat)

Akhirnya dengan senantiasa bermohon ampun kepada Allah SWT, dan juga senantiasa mengharap rahmat dan hidayah Nya, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi semuanya dan semakin menambah wawasan kita tentang Syahadat dan Shalat yang merupakan fase penting dalam pengabdian kita kepada Allah SWT secara benar. Sehingga benarlah pengabdian kita kepadaNya.

Sesungguhnya manusia tempat salah dan lupa, kebenaran hanya milik Allah dan aku berlindung serta bermohon perlindungan kepadaMu ya Allah dari perbuatan yang jahil dan perbuatan yang jahat (Syetan).

28 Januari 2013
Putra Rakyat Jelata



Abdullah Soim Utomo
Poskan Komentar